Senin, 18 April 2011

Chapter Four

Mengetuk pintu kamar yang terbuat dari kayu dengan tulang jari. Pintu terbuka dari dalam, dan yang Zora lihat hampir membuatnya menjatuhkan pesanan adiknya dan ibunya. Lututnya terasa lemas, dan hampir membuatnya jatuh di atas lantai. Tapi, dia berusaha untuk tenang dengan apa yang dilihatnya. Dia bejalan masuk, menaruh belanjaannya di atas meja lemari besi di sisi kanan kasur adiknya. Setelah itu, dia segera menghampiri satu persatu dari paman dan bibinya yang datang untuk membesuk adiknya yang mulai terlihat sehat, karena kebetulan dia masuk rumah sakit tiga hari setelah ujian akhir semester satu berlangsung.
Setelah itu, Zora duduk di sofa tunggal yang empuk sambil berusaha untuk tidak menatap siapa pun dan berusaha untuk tidak ditatap siapa pun. Dia tidak ingin keterkejutannya akan kehadiran paman dan bibinya membuat kekuatannya di luar kendalinya, karena itu dia berusaha untuk diam dan berpura-pura menonton televise dengan acara berita terkini yang sedikit membuatnya tertarik untuk memahami isi berita itu dengan baik-baik.
Setelah berita yang Zora dengar setengahnya mengenai demo di Bundaran HI, Zora merasakan hawa panas di sekitarnya, membuat Zora semakin lemas dan semakin berusaha untuk menutupi ketidakberdayaannya dalam mengendalikan kekuatannya. Laki-laki yang hendak menangkap Bayu yang ditemui Zora dan Bayu di depan Museum Keprajuritan 4 jam yang lalu ditahan di kantor polisi khusus di daerah terpencil. Polisi itu mengaku bahwa laki-laki berkumis itu telah membunuh lebih dari 20 orang dalam waktu kurang dari satu jam. Dan polisi itu menyatakan bahwa perkembangan Manusia Super di Indonesia sudah semakin pesat, dan diperkirakan akan menduduki setengah pulau Bali jika Manusia Super dari Indoensia itu dikumpulkan.
“Benar-benar menyebalkan mendengar Manusia Super semakin sering menjadi bahan pembicaraan hampir setiap berita yang disiarkan di televise, bahkan koran dan radio juga membahas hal yang sama,” kata Bibi Widya dengan wajah yang terlihat kesal. “Kenapa Manusia Super itu harus ada di dunia ini? Mereka tidak ada gunanya. Hanya membuat warga resah dan takut untuk berteman dengan Manusia Super. Bagaimana perasaan kelaurga mereka yang memiliki anak seorang Manusia Super, ya? Pasti kerepotan,” katanya menambahkan dengan penuh rasa dongkol. Dari wajahnya, dia terlihat sangat tidak menyukai Manusia Super, dan itu membuat Zora semakin takut bahwa dirinya juga seorang Manusia Super yang nantinya akan diketahui keluarganya.
“Memang mereka membuat kita resah, Mbak. Tapi, mereka juga manusia. Hanya saja mereka manusia yang memiliki kelebihan yang berlebihan. Tidak baik berkata seperti itu. Allah menciptakan mereka pasti ada tujuannya. Mungkin saja ada sebagian dari mereka yang baik dan berusaha menyelamatkan dunia. Jika ada tokoh baik, pasti ada tokoh jahat. Dan saat ini, yang sering dibicarakan adalah tokoh yang jahat,” kata Ibu Zora sambil tersenyum. Dia berusaha untuk tidak terlihat seperti membantah perkataan kakaknya, tapi berusaha untuk mengingatkan, karena itu dia berusaha untuk tetap tersenyum.
Bibi berbadan besar dan berkerudung yang berwarna hijau, sementara baju yang dipakainya adalah berwarna biru gelap itu hanya menganggukkan kepalanya, menyadari kesalahannya. “Tapi, kita harus tetap berhati-hati. Bisa bahaya kalau yang kita temui adalah yang jahat,” katanya menambahkan. “Zora, kamu harus hati-hati di rumah. Jangan biarkan sembarang orang untuk masuk, Selalu mengunci pintu dan jendela,” katanya pada Zora, mengingatkan keponakannya yang kini tinggal sendirian di rumah.
Zora menanggapi perkataan bibinya hanya dengan menganggukkan kepalanya sambil menatap televise, berusaha menutupi rasa khawatirnya.
 Untuk menghilangkan sedikit rasa khawatirnya, Zora bergerak untuk bangkit dari sofa. Berjalan menuju adiknya yang terbaring di atas kasur dengan wajah pucat kemerahan. Zora memang tidak begitu bisa menunjukkan rasa sayangnya pada adiknya, tapi sebenarnya dia sangat sayang pada adiknya, dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Zora duduk di kursi yang terdapat di samping kasur adiknya. “Bagaimana? Sudah lebih baik?” tanyanya pada adiknya sambil memandangi tangan kanan adiknya yang kurus dan berkulit bercak merah.
Adiknya yang bernama Hanan Mutiara menjawabnya sambil memajukan kedua bibirnya dan mengerutkan kening. Dia mengangkat tangan kirinya yang terpasang dua selang infuse, infuse untuk menambah kadar air dalam tubuh serta menambah darah karena Hana juga mengalami anemia yang sudah diidapnya sejak dulu. “Aku tidak baik. Kepalaku sakit, dan aku merasa mual. Kakak enak karena Kakak selalu mendapatkan kondisi baik, sedangkan aku tidak,” katanya mengeluhkan.
Zora hanya tersenyum membalas tanggapan adiknya. Sejak lahir, adiknya sudah sering keluar-masuk rumah sakit, entah terkena demam parah, tifus, operasi usus buntu, sampai terkena Demam Berdarah dan harus menjalani perawatan sampai kondisinya benar-benar pulih. Kondisi tubuhnya memang tidak beruntung untuk umur aktifnya. Sedangkan Zora tidak pernah masuk rumah sakit, dan kalaupun sakit Zora hanya membutuhkan tidur selama semalam dan besoknya sudah kembali sehat. Hal ini menjadi sebab kenapa Zora tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya pada adiknya. Zora tidak bisa mendengar keluhan-keluhan dari adiknya, karena dia sudah berusaha untuk memberikan saran pada adiknya, tapi adiknya tidak pernah menjalankan sarannya. Meski begitu, Zora adalah kakak yang paling rajin menjenguk adiknya ketika dirawat meski dirinya sendiri sedang berkondisi tidak baik. Terutama seperti saat itu, karena dia baru saja mendapatkan serangan jantung dan otak dari seorang Necrokinesis atau Pembunuh Organisme.
“Tapi, Kak,” kata Hana menghapus senyum di wajah Zora. “Wajah Kakak terlihat lebih pucat dari biasanya. Kakak juga berkeringat, padahal di ruangan ini dilengkapi pendingin ruangan yang selalu menyala, dan semuanya kedinginan kecuali Kakak. Kakak tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara keras, mengalihkan perhatian para orang dewasa yang sedang menonton.
Zora sedikit tersentak. Dia menyentuh pipinya dengan tangan kanannya, dan dia memang merasa panas tubuhnya lebih tinggi dari biasanya, tapi Zora tidak bisa mengatakannya pada orang-orang di ruangan itu, karena Zora tidak suka diperhatikan berlebihan meski dia mau lebih diperhatikan. Sebenarnya, Zora iri pada adiknya yang selalu diperhatikan ibunya karena memiliki kondisi tubuh yang buruk, sedangkan dia sering dibiarkan sendirian di rumah karena ibunya harus menjaga adiknya ketika dirawat. Tidak hanya itu, adiknya selalu diperhatikan oleh anggota keluarga besar, sementara dirinya dibiarkan duduk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan khawatir dari orang-orang pada adiknya, dan adiknya lebih terkenal dibanding dirinya. Bahkan, terkadang Zora dilupakan. Memang Zora merasa sedih akan hal itu, tapi dia merasa dirinya adalah orang paling beruntung sedunia, karena dia mendapatkan anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kekuatan besar yang akan dijadikan perebutan seluruh negara, dan dia akan lebih dikenal dengan itu. Namun, jika dirinya terkenal sampai ke luar wilayah Indonesia, maka keluarganya berada dalam bahaya. Dan hal itu membuat Zora bingung harus bersikap sepeti apa, senang atau sedih.
Zora menggelengkan kepalanya untuk memberitahukan hasil suhu tubuhnya pada adiknya yang menyadari wajah pucatnya. “Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kelelahan. Kalau begitu, aku pamit pulang sekarang. Kalau aku beristirahat di sini, aku bisa tertular berbagai macam virus di dalam rumah sakit,” kata Zora sambil tersenyum pada adiknya yang mengkhawatirkannya. Zora berjalan menuju sofa untuk mengambil tas yang dibawanya, lalu bergegas berpamitan pada bibi dan pamannya yang datang menjenguk adiknya serta ibunya yang menemani adiknya. Setelah itu, Zora berjalan menuju pintu kamar dan bergerak cepat-cepat untuk keluar dari kamar adiknya.
Zora berjalan cepat menuju elevator. Sambil berpegangan pada pagar besi di sisi kirinya, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, tapi tidak sesakit ketika laki-laki berkumis menyerang otaknya tadi pagi. Tidak hanya kepalanya yang terasa sakit, tapi dada kirinya pun ikut terasa sakit. Dalam pikirannya, dia merasa bahwa itulah dampak dari serangan Necrokinesis, tapi dia tidak menyangka bahwa dampaknya akan sangat membuatnya menderita.
Dia berdiri di depan elevator, menunggu pintu elevator yang terbuat dari besi perak yang berlapis-lapis. Sambil menunggu, dia berusaha menahan rasa sakitnya akibat serangan Necrokinesis. Namun, karena pintu elevator tidak juga terbuka meski sudah menunggu selama satu menit, napasnya mulai tersengal-sengal dan dia merasa bahwa kesadarannya akan hilang. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya tetap terjaga.
Elevator sudah tiba di lantai 3 rumah sakit 5 lantai itu. Ketika itu, keadaannya semakin buruk. Tepat ketika Zora hampir saja ambruk di depan pintu elevator yang akan segera terbuka, seorang dokter berjas putih yang memiliki tubuh tinggi dan cukup sempurna untuk seorang laki-laki lewat di belakangnya dan segera menahan tubuhnya. Zora yang hampir kehilangan kesadaran kini kesadarannya kembali dan dia berusaha untuk kembali berdiri dan bergegas masuk ke dalam elevator kosong. Tapi, dokter itu segera menahannya untuk tidak pergi dengan menggenggam pergelangan tangannya.
“Terima kasih, Dokter sudah membantu saya. Tapi, saya harus pergi sekarang,” kata Zora sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan dokter yang terdapat nama di jas putihnya. Dokter itu bernama Aji Ansari. Tapi, Zora berusaha sekuat apapun dengan tubuhnya yang sedang lemah itu, tetap saja dokter itu tidak melepaskan tangannya.
“Ikut saya,” kata dokter itu menarik tangan Zora dan membawanya sambil merangkul tubuh Zora dengan kuat. Dia berjalan cepat, dan Zora harus menyesuaikan langkahnya. Dokter itu membawanya ke sebuah ruang kerja yang dipintunya terdapat tulisan nama dokter itu dan spesialis dokter itu, yaitu Dokter Umum serta Dokter Bedah Dada & Jantung untuk rumah sakit itu. Ruangan itu terdapat di lantai yang sama dengan rawat inap pasien umum, tapi berbeda arah dengan ruang perawatan adiknya. Mereka harus melewati meja resepsionis yang tinggi dan terbuat dari kayu untuk bisa sampai ke ruang kerja itu. Ada seorang perawat yang melihatnya, tapi perawat itu tidak mencurigai gerak-gerik dokter itu, karena dokter itu menunjukkan senyum lebar seakan-akan dia baru saja bertemu teman lama dan hendak mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya untuk bernostalgia.
Dokter itu membuka pintu kayu ruang kerjanya, mempersilakan Zora untuk masuk lebih dulu dengan tetap dicengkeramnya lengan Zora. Dokter itu menutup pintunya dan menyuruh Zora untuk berbaring di atas kasur periksa, tapi Zora berusaha menolaknya karena dia tidak senang diperiksa, karena diperiksa dan hasilnya akan ketahuan apa yang terjadi padanya saat itu. Dia selalu takut hasil yang didapatnya adalah hasil yang buruk. Namun, dokter itu malah mengangkat tubuh Zora dan segera membaringkannya di atas kasur periksa. “Suster Sandra, tolong segera siapkan karte baru untuk anak ini,” katanya pada suster berkerudung yang dengan cepat memahami kalimatnya, dan susuter itu segera bergerak ke ruangan di belakang kasur periksa yang hanya tertutup oleh sebuah tirai.
“Dokter tidak sopan. Saya tidak apa-apa. Saya harus pulang,” kata Zora sambil berusaha untuk bangun, namun dokter itu menahan kedua tangannya sehingga dia tidak bisa bergerak untuk bangkit. Zora terus memberontak menolak pemeriksaan, tapi akhirnya kondisinya semakin memburuk dan dia hampir kehilangan kesadarannya. Dia terpaksa berbaring di atas kasur periksa dengan mata yang terbuka setengah dengan napas tersengal-sengal.
“Suster, siapkan juga oksigen untuk anak ini. Dia mulai kekurangan oksigen,” kata dokter itu sambil mempersiapkan stetoskop dan tensimeter untuk memeriksa suara di dalam tubuhnya dan memeriksa tekanan darahnya. Dia membalikkan badan dan memasangkan tensimeter pada lengan kanan Zora, lalu menaruh kepala stetoskop pada lipatan tangannya. Dia mengunci lubang di dalam kain yang melingkat, lalu mulai memompa hingga terdengar detak jantung pertama dan mulai mengendurkannya perlahan-lahan sampai detak jantungnya tidak terdengar. Dia melepaskan dua benda bulat di telinganya dan menggantungkannya pada lehernya. Dia melepas tensimeter dari lengan Zora, merapikannya dan kembali menatap Zora dengan wajah tenang, tapi terasa sangat serius.
“Saya tidak apa-apa, bukan? Saya harus segera pulang,” kata Zora dengan suara yang terdengar lemah. Dia kembal berusaha untuk bangkit, tapi suster yang bernama Sandra itu segera menahan tubuhnya dan memasukkan dua selang hijau berukuran pendek pada kedua lubang hidungnya, melingkarkan selang panjang pada bagian belakang kepalanya, dan mengeratkannya, membentuk kerutan pada jilbab putih yang dikenakannya. “Saya tidak butuh oksigen ini. Saya baik-baik saja,” katanya kembali, berusaha membiarkan dokter itu untuk membiarkannya pulang.
Dokter itu menggeleng dengan pelan. “Tidak, kamu masih harus menjalani beberapa pemeriksaan. Aku menduga kamu terkena sebuah penyakit. Mungkin kamu harus segera menjalani perawatan beberapa hari untuk melihat perkembanganmu. Tekanan darahmu rendah, 90 per 70. Detak jantungmu juga kecil dan lemah. Karena itu, jalani perawatan di sini. Kami akan menghubungi keluargamu,” kata dokter itu sambil menuliskan hasil pemeriksaan sementaranya terhadap Zora di atas kertas yang cukup tebal.
Zora tersentak kaget. Dia tidak ingin keluarganya tahu mengenai kondisinya, terutama ketika adiknya sedang berada dalam perawatan yang membutuhkan banyak biaya, dan dia tidak ingin menambahkan biaya itu dengan dirinya yang juga itu dirawat. “Tidak bisa. Saya tidak bisa menjalani perawatan untuk saat ini. Dokter cukup memberikan resep obatnya padaku, dan aku akan beristirahat di rumah sebanyak mungkin. Saya yakin saya akan baik-baik saja tanpa harus menjalani perawatan,” kata Zora sambil bergerak untuk bangkit dengan perlahan-lahan, dia merasa tubuhnya seperti kembali kuat, dan dia tahu itu bisa terjadi karena kekuatannya yang berada di luar kendalinya. Zora bergerak menurunkan kedua kakinya di atas pijakan berbentuk tangga, lalu melepaskan selang oksigen dari hidungnya. Meski Suster Sandra berusaha menghentikannya, tapi suster itu tidak kuat menahan tubuh Zora yang lebih besar darinya.
Zora menarik kursi lipat di depan meja dokter itu, lalu memperhatikan dokter itu menuliskan hasil pemeriksaannya dan sebuah resep di atas secarik kertas putih tipis. “Aku tahu kamu akan berkata begitu. Kamu anak yang baik. Aku mengerti bahwa kamu tidak ingin orang tuamu mengeluarkan lebih banyak uang lagi untukmu, sementara adikmu juga membutuhkan perawatan dokter dan suster di rumah sakit. Karena itu, setiap pagi dan sore mulai besok, aku akan datang ke rumahmu untuk melakukan beberapa pemeriksaan padamu. Ini yang bisa aku lakukan, karena aku yakin kamu tidak akan datang jika besok aku menyuruhmu untuk kembali. Benar, ‘kan?” katanya sambil menyerahkan kertas putih panjang yang berisi tulisan sambung bertinta hitam yang tidak dimengertinya.
“Sepertinya dokter melihat saya ketika keluar dari kamar rawat adik saya. Syukurlah karena dokter bisa mengerti perasaan saya. Saya tunggu kedatangan dokter besok pagi jam 8. Dokter boleh mengajak suster, tapi jangan harap dokter memberitahukan ibu saya yang menjaga adik saya. Kalau sampai saya lihat dokter datang bersama ibu saya, saya tidak akan segan-segan untuk mengusir dokter dari rumah saya dengan tanpa rasa hormat. Terima kasih. Permisi,” kata Zora sambil mendorong kursi lipat yang terbuat dari besi itu, lalu berdiri dan berjalan penuh tenaga menuju pintu ruang pemeriksaan yang tertutup. Dia membukanya, lalu menutupnya kembali dengan sedikit membanting.
Suster di dalam ruang pemeriksaan itu menggeleng, “Baru kali ini saya melihat ada anak semandiri dan sekuat itu. Mungkin besok Dokter akan mendapatkan sedikit masalah dari anak itu. Sepertinya dia tidak ingin ada orang yang mengkhawatirkan dirinya,” kata suster itu sambil tersenyum kagum. “Oh iya, Dokter Aji. Bagaimana dengan nama anak itu? Bagaimana biaya pemeriksaannya?” tanya suster itu sambil menunjukkan papan kayu yang terdapat kertas tebal berisi hasil catatan pemeriksaan Zora.
Dokter itu sempat terdiam sejenak. “Aku akan bertanya pada dokter yang menangani adiknya. Aku akan meminta kerja samanya. Dan tentu saja dengan tidak membawa-bawa hasil pemeriksaannya. Masalah biaya pemeriksaannya, bisa kita urus nanti, setelah dia mau mengakui kondisi tubuhnya. Dari tatapannya, dia terlihat serius memberi ancaman padaku,” kata dokter itu sambil meluruskan kedua kakinya di kolong meja kerjanya. “Besok, temani saya untuk memeriksanya. Setelah pemeriksaan rutin pada pasien di ruang rawat Dada & Jantung, saya akan pergi secara diam-diam,” tambahnya.
Suster itu mengangguk.

Chapter Three

Bayu telah pergi meninggalkan Zora dalam keterkejutan, dan kini Zora ikut pergi dari tempat itu untuk segera pulang ke rumahnya dan segera bersiap-siap untuk menjenguk adiknya yang dirawat di rumah sakit karena Demam Berdarah. Selain itu, sebelum dia pergi menjenguk di waktu jam besuk – sebenarnya adiknya dirawat di ruang VIP dan tidak ada pengaruh dengan jam besuk – Zora akan bertemu dengan Novi, sahabatnya yang menyembunyikan kekuatan Pengendalian Air darinya. Zora mengerti tujuan Novi menyembunyikannya, tapi dia juga ingin tahu kebenarannya dan ingin memberitahukan sahabatnya itu mengenai kekuatan yang baru saja lahir di dalam tubuhnya setelah tertidur selama 15 tahun. Memang mendadak, tapi Novi sudah mengatakan ‘iya’ untuk bisa bertemu dengan Zora di salah satu restaurant di mall terdekat dengan rumah Novi, yaitu di daerah Bekasi.
Setibanya Zora di rumahnya dalam perasaan senang dan penuh semangat, dia segera bersiap-siap untuk mandi. Memang kebiasaannya setiap hari adalah mandi dalam waktu setengah jam, bahkan lebih. Entah apa yang dilakukannya, tapi memang itulah kebiasaannya. Tapi, setelah selesai mandi, dia bisa mengenakan pakaian dalam waktu kurang dari lima menit jika sedang bersemangat dan terburu-buru. Bahkan, meskipun dia mengenakan kerudung yang harus terpasang rapi di kepalanya, tapi Zora dapat melakukannya dengan baik meski sedang terburu-buru.
Selesai mengenakan pakaiannya, memasukkan beberapa barang – mukena, dompet, tisu, serta kaca mata untuk membantunya melihat jarak jauh jika diperlukan – ke dalam tas ransel kecil, serta mematikan semua listrik di dalam rumah, Zora segera keluar kamar menuju ruang tamu dengan sudah mengenakan helm berwarna hitam di kepalanya. Motor matik pemberian ayah dan ibunya di hari ulang tahunnya yang ke 16 dua bulan yang lalu segera dinyalakannya dan berjalan mundur dengan bantuan kaki untuk keluar dari ruang tamu rumah yang dijadikan tempat parkir motor matiknya. Setelah mengeluarkan motornya, Zora turun kembali dari motornya untuk mengunci pintu. Barulah setelah itu Zora dapat pergi ke mall tempat perjanjiannya dengan sahabatnya, Novia Salsabila.
Meski Zora baru saja mendapatkan SIM untuk motor matiknya di umur 16 tahun dan belum bisa berjalan dengan kecepatan tinggi, tapi Zora berusaha untuk bisa segera samapai di mall tempat pertemuannya dengan Novi. Perasaannya penuh dengan kegembiraan dan semangat dan sangat ingin cepat sampai di mall tersebut, tapi Zora tetap harus berhati-hati atau dia akan lebih terlambat lagi karena terhalang oleh pekerjaan polisi-polisi lalu lintas yang kadang kekurangan pekerjaan sehingga harus memberhentikan pengguna-pengguna motor yang sebenarnya sudah mengikuti aturan.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam, akhirnya Zora tiba dan segera memarkirkan motornya di parkiran motor. Dia bergegas melangkahkan kakinya selebar dan secepat mungkin untuk bisa segera bertemu dengan Novi. Zora hampir tiba di restaurant tempat mereka berjanji untuk bertemu. Saat itu, terlihat Novi sedang berjalan sendirian sambil mengeluarkan telepon genggamnya dan terlihat sedang mengetik sesuatu pada telepon genggamnya. Dengan segera, Zora berjalan lebih cepat dan bisa sampai tepat waktu setelah Novi duduk di salah satu meja.
Novi memilih meja yang cocok untuk pembicaraan mereka pagi itu. Meja itu terletak menempel pada jendela tebal yang lebar dan sedikit menjauh dari meja-meja yang lainnya. Meski begitu, sering sekali tempat itu dijadikan meja untuk berduaan antara laki-laki dengan perempuan yang sering bermesraan tanpa tahu suasana dan keadaan sekitar.
Zora duduk di hadapan Novi. Pelayan perempuan datang menanyakan pesanan. Dengan segera, mereka memesan makanan yang tidak terlalu berat dan minuman segar. Setelah pelayan itu mencatat pesanan mereka dan pergi menuju dapur untuk mempersiapkan pesanan, Zora menyiapkan diri untuk mulai pembicaraan lebih dulu. Dengan penuh semangat, Zora segera berkata, “Novi, kamu kenal dengan murid jurusan IPS yang bernama Dimas Bayu?”
Novi terlihat sedikit tersentak. Zora bisa melihat ketidaktenangan di wajah Novi, tapi Zora hanya menebarkan senyum penuh rasa senang dan semangat. “Aku kenal. Memangnya ada apa? Kamu juga kenal dengannya?” tanya Novi berbalik. Dia terlihat panik dan tidak tenang. Dia takut bahwa Zora akan tahu rahasianya dengan Bayu mengenai Pengendalian Air yang baru saja terbangun seminggu sebelum Pengendali Makhluk Hidup dalam tubuh Zora terbangun, padahal Zora sudah tahu mengenai hal itu dari Bayu beberapa jam yang lalu.
“Tadi pagi, saat aku lari pagi di Taman Mini, aku menemukannya baru saja bangun tidur dari Museum Keprajuritan. Awalnya, aku takut karena dia terlihat seperti orang yang akan menyakitiku, karena aku menemukannya di tempat yang tidak diperbolehkan untuk tidur. Tapi, ketika aku tersandung, dia membantuku untuk berdiri.
“Beberapa saat setelah itu, dia jatuh pingsan. Ketika aku bergegas untuk mencari bantuan, tubuhku tidak dapat digerakkan, otakku terasa sangat sakit sampai aku memuntahkan isi perutku yang hanya ada air yang sudah bercampung dengan asam lambung. Orang yang membuatku seperti itu adalah seorang laki-laki berkumis yang ternyata salah sangka atas diriku yang ada bersama Bayu di tempat itu. Tidak hanya otakku, tapi juga jantungku sampai aku bersimpuh di atas tanah dan tidak berdaya,” kata Zora bercerita, memancing kepanikan dan ketidaktenangan di wajah sahabatnya.
“Astaghfirullah,” seru Novi dengan suara yang sedikit dipelankan. Dia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh pergelangan tangan Zora untuk beberapa saat, memeriksakan detak jantung Zora, dan dia kembali duduk dan menatap Zora dengan wajah khawatir. “Tapi, kamu tidak apa-apa? Bagaimana dengan Bayu?” tanya Novi dengan wajah khwatir, tapi tiba-tiba saja dia sadar kalimat kedua sebelum kalimat terakhir yang Zora ucapkan. “Tunggu, bagaimana kamu bisa tahu bahwa laki-laki berkumis itu yang melakukannya padamu?” tanya Novi, dan wajahnya terlihat semakin tidak tenang.
Zora menyengir. “Aku baik-baik saja,” kata Zora, menjawab pertanyaan pertama. Zora kembali menyengir, dan dia membuka matanya karena harus menyengir yang menyebabkan matanya terutup, lalu memperlihatkan secara tidak sengaja sesuatu yang membuat Novi membelalakkan mata dan menganga dengan mulut terbuka lebar. Tangannya segera bergerak cepat untuk menutup kedua mata Zora, tapi sebenarnya Zora tidak tahu apa yang terjadi saat itu. “Zora, baru saja matamu berubah warna. Berhati-hatilah, karena kamu akan banyak mendapatkan masalah jika sampai ada yang mengetahuinya lebih dari aku. Kamu bisa jadi bahan perebutan,” kata Novi dengan perlahan-lahan melepaskan tangannya dari mata Zora yang kini sudah kembali seperti semula, tapi terlihat lebih hitam. Dan saat itu dia mulai mengerti apa yang terjadi pada Zora. Meski Novi berusaha terlihat tenang di depan Zora, tapi tetap saja Zora tahu bahwa teman yang sudah dianggapanya sahabatnya itu sangatlah tidak tenang akan dirinya.
Zora hanya menyengir dengan wajahnya yang polos. “Wah, tidak aku sangka Bayu banyak mengajarkan hal-hal penting padamu, sampai kamu tahu bahwa apa yang ada di dalam tubuhku ini menjadi incaran orang-orang,” kata Zora menanggapi. “Kekuatanku ini baru saja terlahir ketika laki-laki berkumis itu melakukan hal yang sama pada Bayu. Aku melemparkan batu bata dan melukai kepalanya sampai berdarah. Aku ingin menutup lukanya dengan sapu tanganku, tapi ternyata darah yang keluar kembali masuk dan luka itu tertutup dengan sendirinya tanpa bekas. Aku hampir berteriak ketakutan, tapi Bayu menjelaskannya padaku ketika dia sadar bahwa ada sesuatu yang telah terbangun dalam tubuhku. Aku juga tidak menyangka bahwa kamu juga salah seorang QES,” kata Zora melanjutkan ceritanya dengan singkat.
Novi terlihat sedang berpikir keras. Dia menyedekapkan kedua tangannya membentuk silang di depan dada, dan matanya melirik ke luar jendela. Alisnya berkerut menyatu ke tengah-tengah kening, dan menghasilkan kerutan pada kenignya. Dia melepaskan kedua tangannya, lalu menyedekapkannya di atas meja. Dia menatap Zora dengan serius, lalu berkata, “Tidak aku sangka Bayu mengatakannya padamu. Tapi, yang tidak aku bisa menyangka, kamu adalah SOS dan kamu berada dalam ancaman. Hidupmu akan mulai penuh dengan cerita dan petualangan. Seluruh negeri akan datang untuk mencarimu, bahkan aku dan Bayu juga menjadi incaran seluruh negeri untuk membentuk pertahanan bersamamu dan dua QES lain yang ada di Mesir dan Amerika. Karena itu, tolong hati-hati dalam mengendalikannya. Aku tahu, sulit mengendalikannya secepat ini. Tapi, berusahalah. Aku dan Bayu akan ada untukmu. Kalau suatu saat nanti orang-orang sudah menyadari keberadaanmu, aku dan Bayu terpaksa mengungsikanmu, dan itu janji kami pada Ketua SI (Salvatorem Indonesia). Bayu juga sepertinya sudah mengatakannya padamu mengenai kekuatan yang dimiliki Ketua. Tapi, cepat atau lambat, Ketua akan mengetahuimu dan akan menjalankan rencana utama, Menyembunyikan SOS.” Untuk pertama kalinya Novi berwajah serius ketika berbicara dengan Zora, karena Zora contoh orang yang tidak bisa diajak berbicara terlalu serius seperti saat itu.
Zora tersenyum, tapi senyum itu terasa berbeda, karena alisnya terlihat berkerut di keningnya. Zora menganggukkan kepalanya dengan lemas. Dia menatap pesanannya yang baru saja datang, memainkan spaghetti pesanannya dengan memutar-mutarkannya pada garpu. “Aku tahu itu. Karena itu, aku akan merahasiakannya dari keluargaku. Aku juga sudah bilang pada Bayu untuk menjaga rahasia ini. Tapi, aku takut kalau orang-orang terdekatku, terutama keluargaku dan teman-temanku juga sahabatku berada dalam bahaya karenaku. Jika saat itu tiba, aku tidak tahu harus melakukan apa. Tapi, untuk saat ini aku berusaha untuk mengendalikannya agar tidak lepas kendali di tempat umum,” kata Zora dengan tidak bersemangat, tapi dia terus menyinggung senyum di wajahnya.
Novi menghela napas dengan berat. “Aku tahu hal ini pasti akan sangat berat untukmu, apalagi kamu langsung tahu kebenarannya. Karena itu, aku akan terus ada di sampingmu untuk mengingatkanmu agar terus mengendalikan emosi agar sesuatu itu tidak membrutal di tempat umum,” kata Novi sambil menyinggung senyum penuh semangat, membangkitkan semangat Zora yang hampir hilang. “Dan maaf, karena aku menyembunyikan bahwa aku QES darimu. Memang baru seminggu aku mendapatkannya, tapi aku merasa tidak enak karena sudah menyembunyikannya darimu,” kata Novi sambil tersenyum penuh penyesalan.
Zora mengangguk dengan lebih bersemangat. “Tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti perasaanmu. Jika aku menjadi dirimu, akan kulakukan hal yang sama,” kata Zora dengan senyum yang juga menyemangati Novi yang kuarang bersemangat karena merasa bersalah telah menyembunyikan keberadaannya sebagai salah satu QES (Quatuor Elementa Salvator).
Setelah pembicaraan itu, akhirnya mereka bersemangat untuk makan. Meski masing-masing dari mereka sudah menikmati sarapan di rumah mereka – Zora menikmati sarapan bersama Bayu di TMII – mereka tetap menghabiskan pesanan mereka. Memang terasa sangat kenyang, tapi mereka merasa senang karena bisa mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan.
Selesai makan, Zora menawarkan jasa antar untuk Novi. Novi menerimanya. Zora segera mempersiapkan uang parkir. Dia menyerahkan uang parkir itu pada Novi untuk dibayarkannya, sementara dia hanya perlu berkonsentrasi untuk menyetir dan memperhatikan jalan.
Setelah keluar dari mall, Zora hanya perlu mengikuti jalan dan mengikuti angkutan umum berwarna biru yang mengantarkannya menuju pertigaan menuju rumah Novi. Jika ingin pulang, Zora harus berbelok ke kanan, tapi karena ingin mengantarkan Novi pulang ke rumahnya, Zora harus berjalan lurus dan terus mengikuti jalan selama sekitar 20 menit karena perjalanan sedikit tersendat akibat bukanya toko baru di tepi jalan yang menjualkan martabak berbagai macam rasa.
Novi turun di motor. Dia melambaikan tangannya pada Zora ketika Zora bergerak untuk memarkirkan motornya. Setelah itu, Zora membalas lambaian tangan sahabatnya dan menarik gas. Motor matiknya melaju dengan kecepatan 20 kilometer per jam, sehingga dia butuh waktu sekitar satu sampai satu setengah jam untuk bisa sampai di rumah sakit.
Ketika macet, dia mengirimkan pesan pada ibunya bahwa dia akan datang membesuk, dan akan tiba beberapa menit lagi. Dia juga menawarkan jasa belanja untuk membelikan sesuatu untuk ibunya dan adiknya. Karena adiknya ingin sekali cokelat dan ibunya ingin jus buah sirsak, maka Zora harus mampir di toko 24 jam yang ada di lobi rumah sakit itu.
Setelah menempuh perjalanan yang penuh dengan udara panas, emosi, serta lengkingan klakson-klakson mobil dan motor, akhirnya Zora tiba di rumah sakit. Dia segera membelikan pesanan adiknya dan ibunya dengan menggunakan uang saku yang diberikan ibunya selama ibunya menjaga adiknya yang dirawat. Selesai berbelanja, Zora bergegas ke kamar VIP adiknya yang ada di lantai 4 rumah sakit. Kamar yang ada di bagian kanan elevator, lalu terus berjalan melewati tiga pintu kayu yang setiap kamarnya memiliki sepasang bangku beralas hijau dan meja kaca berbentuk lingkarang berwarna cokelat.
Zora mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam kamar adiknya. Dia harus dalam keadaan bersemangat, tenang, dan tidak terlihat lelah seperti yang dirasakannya hari itu. Zora tidak pernah membiarkan wajahnya terlihat lelah di depan keluarganya, bahkan wajah pucatnya saja hampir tidak diketahui kedua orang tuanya ketika dia sedang terserang demam ringan. Untuk pertama kalinya kedua orang tuanya tahu wajah pucatnya adalah ketika dia terserang sakit tifus dan hampir jatuh pingsan ketika hendak pergi ke rumah saudara sekitar 5 bulan yang lalu. Dan hal itu membuat Zora tidak ingin lagi memperlihatkan kondisi tubuhnya yang sebenarnya di depan keluaganya.
Ketika dia hampir sampai di kamar rawat adiknya, dia merasa perlu pergi ke kamar mandi untuk melihat dirinya dalam pantulan cermin. Dia berjalan berbalik dan pergi ke kamar mandi umum, tidak jauh dari meja resepsionis yang selalu terpasang dan terisi perawat di setiap lantainya. Zora meninggalkan belanjaan di atas bangku di samping pintu kamar mandi perempuan, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang sepi dan berpenerangan redup. Dia berdir di depan cermin, memandang tubuhnya yang gemuk dan lebar, serta memandang wajahnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Dia menyadari garis lengkung hitam di bawah matanya, dan itu membuatnya takut akan ketahuan oleh keluarganya.
Zora membuka keran washtafle di bawah cermin lebar dan panjang itu. Dia menampung air yang terasa hangat, sesuai dengan kondisi di luar rumah sakit yang sejuk. Dia mendekatkan wajah pada tangannya yang membentuk mangkuk untuk menampung air. Dia mengusapkan air itu ke wajahnya, dan membuatnya merasa sangat nyaman dan kembali segar seperti sedang mandi di siang hari yang panas.
Zora melakukannya kembali sekitar tiga kali, lalu dia mengambil tisu di dinding dekat washtafle yang dia gunakan. Dia mengeringkan wajahnya dengan tisu itu perlahan-lahan, lalu membuat wajahnya kering dan terasa sangat segar. Dia menaruh kedua tangannya di tepian washtafle yang terbuat dari keramik. Dia menjadikannya tumpuan. Dia menjodongkan tubuhnya sedikit menempel pada cermin. Dia menatap wajahnya yang perlahan-lahan terlihat memucat kembali. Dia menepuk pipinya dengan kedua wajahnya, lalu warna iris matanya berubah menjadi merah untuk sesaat, dan kembali menjadi hitam. Zora sedikit tersentak melihatnya, tapi dia kembali tenang dan teringat bahwa dirinya saat itu bukanlah dirinya yang sebenarnya, melainkan seorang Juru Selamat atau Salvator.
Zora segera melupakan hal itu. Dia memutar badan dan berjalan keluar kamar mandi yang penuh dengan bakteri. Dengan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya sejak pagi hari itu, dia mampu merasakan keberadaan virus, bakteri, bahkan mikroorganisme yang tidak terlihat dengan mata telanjang tanpa bantuan mikroskop. Memang awalnya dia merasa jijik melihat bentuk-bentuk bakteri dan virus-virus kecil yang ada di udara dan di sekitarnya, tapi perlahan-lahan Zora mampu membiasakan dirinya dalam hal apapun, serta membiasakan dirinya untuk tetap tenang.
Zora mengambil belanjaannya, lalu kembali berjalan menuju kamar adiknya. Sekitar tiga perawat memperhatikannya berjalan dari balik meja resepsionis, tapi hanya ada satu perawat yang memandangnya dengan tatapan curiga. Zora mengabaikan itu, dan dia mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di kamar adiknya sesegera mungkin, sehingga urusannya dapat selesai dengan sesegera mungkin agar dia dapat kembali ke rumah untuk beristirahat.

Chapter Two

Laki-laki yang dipanggil dengan nama Anak Angin itu berdiri tegar dengan pundak yang bergerak naik turun dengan cepat. Dia terlihat seperti kelelahan, padahal dia baru saja sadar dari pingsannya beberapa saat lalu. Tidak hanya napasnya yang tidak beraturan, tapi tubuhnya juga terlihat gemetaran, terutama pada bagian kakinya. Rambutnya yang berantakan bergerak-gerak sendiri, seakan-akan tertiup angin, tapi itu membuatnya terlihat sangat lelah dan dalam keadaan lemah. Meski begitu, laki-laki itu tetap sebagai laki-laki tergagah yang pernah Zora temui selama 16 tahun setelah ayahnya.
Zora duduk melihat tangan kanan Anak Angin yang perlahan-lahan mulai terkumpul asap-asap putih yang terasa sejuk dan dingin. Asap-asap itu mulai berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah bola transparan. Zora hanya bisa diam menganga, tidak menyangka akan apa yang dilihatnya saat itu, dan mungkin itulah yang dimaksud dengan kata-kata ‘akan terkejut ketika melihatnya’. Rasa sakit yang masih tersisa di kepala dan dada kirinya membuatnya yakin betul bahwa yang ada di hadapannya adalah sesuatu yang nyata.
Anak Angin itu melangkah perlahan, lalu semakin cepat dan cepat, hingga dia menghentakkan kaki di atas tanah dengan keras untuk membuat tubuhnya berhenti. Anak Angin itu mengangkat tangan kanannya dan bergerak cepat untuk memberikan bola putih transparan yang terkumpul di atas telapak tangannya. Belum sempat Anak Angin itu memberikannya pada laki-laki berkumis, tubuh Anak Angin itu gemetaran dan tidak dapat bergerak dan tetap pada posisinya. Tiba-tiba saja, Anak Angin itu jatuh tersungkur di atas tanah di depan laki-laki berkumis itu. Anak Angin itu mengerang kesakitan sambil memegangi dada kirinya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang bola transparan.
“Kamu tidak akan bisa mengalahkanku, Bocah Angin. Kamu terlalu terang-terangan memberikan perlawanan,” kata laki-laki berkumis yang sedang menebarkan senyum senang di atas penderitaan Anak Angin itu. Tangan kanan laki-laki berkumis itu terlihat seperti menggenggam kembali, dan itu membuat Zora menyadari sesuatu, tapi dia belum bisa membuktikannya. “Levelmu masih jauh di bawahku. Kamu terlalu cepat dua puluh tahun untuk bisa mengalahkanku. Menyerah dan ikut aku. Aku akan meningkatkan levelmu, Anak Angin.”
Zora bergerak untuk berdiri perlahan-lahan, berusaha agar laki-laki berkumis itu tidak sadar apa yang akan dilakukannya. Setelah berhasil berdiri meski tubuhnya masih terasa lemas, dia hendak melangkahkan kaki kanannya yang terasa berat. Namun, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu bergejolak di dalam tubuhnya. Dia kembali mengangkat kaki kirinya, tapi tidak terasa berat, bahkan terasa sangat ringan. Dia sempat heran beberapa saat, tapi tidak ada waktu untuk berpikir. Zora segera mengambil batu bata yang pernah membuatnya tersandung dan terjatuh, lalu mengangkat tangan kanannya yang juga terasa sangat ringan, melepaskan batu bata itu hingga melayang sangat kencang ke arah laki-laki berkumis itu.
Beberapa saat sebelum batu itu sampai ke laki-laki berkumis itu, Zora memanggilnya dan membuatnya menatapnya dan menyadari batu bata yang datang padanya. Tangan kanannya terangkat dan melepaskan genggamannya. Dia menaruh kedua tangannya di depan wajah untuk menghindari pukulan dari batu bata itu pada wajahnya, tapi perkiraannya salah karena batu bata itu segera mendarat dengan keras di atas kepala laki-laki berkumis itu. Di saat yang bersamaan, keadaan Anak Angin mulai membaik, dan dia berhenti mengerang-erang kesakitan.
Napas Zora tersengal-sengal. Dia merasa bahwa kesadarannya akan hilang, dan dia merasa tenaganya seperti terkuras habis, padahal dia hanya melemparkan sebuah batu bata yang beratnya kurang dari satu kilogram. Zora bergerak melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri Anak Angin yang masih tersungkur di atas tanah sambil mengatur napasnya. Zora membungkuk, lalu menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Anak Angin. Zora segera mengangkatnya dan menyeretnya menjauh dari laki-laki berkumis yang kini terbaring di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan kepalanya mengeluarkan darah. Zora tahu yang dilakukannya adalah perbuatan dosa, tapi hanya itu yang terpikirkan dalam benaknya untuk menolong Anak Angin sekaligus membuktikan perkiraannya.
Zora kembali menyandarkan Anak Angin itu pada dinding bangunan penjualan tiket. Saat itu, jalanan masih sepi dan tidak ada seorangpun yang lewat, bahkan mobil sekalipun. Zora berbalik dan berjalan menuju laki-laki berkumis dan berniat memberi pertolongan pada luka di kepala laki-laki berkumis itu yang disebabkan olehnya. Zora duduk sejajar dengan kepala laki-laki itu, lalu tangannya tergerak sendiri ke atas kepala laki-laki berkumis itu. Dia tidak tahu siapa yang menggerakkan kedua tangannya, dan dia merasa sangat takut saat itu.
Sebuah asap berwarna pelangi berkelabat di bawah tangannya. Darah-darah yang mengalir keluar dari luka di kepala laki-laki berkumis itu juga bergerak-gerak dan mulai mengalir terbalik, kembali masuk ke dalam lukanya. Selama sekitar 10 detik, darah itu sudah kembali ke kepalanya dan luka di kepalanya mulai tertutup perlahan-lahan. Hal itu semakin membuat Zora merasa sangat takut pada dirinya sendiri dan hidupnya.
Ketika asap berwarna pelangi itu lenyap tiba-tiba setelah luka di kepala laki-laki itu menghilang, Zora menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan mengangkat kedua tangannya ke depan wajahnya, lalu dia menatap telapak tangannya yang masih terlihat asap berwarna pelangi yang keluar dari telapak tangannya. Dia mengusap-usapkannya pada tanah, lalu sebuah akar kecil mencuat dari dalam tanah, entah dari mana. Tapi, semakin Zora mengangkat tangannya karena terkejut melihat akar kecil yang tumbuh dari dalam tanah, semakin tinggi akar itu terangkat.
Zora berusaha bergerak untuk menjauh dari akar yang kini sudah tumbuh setinggi 30 senti, tapi tubuh Zora terasa begitu lemas dan tidak berdaya. Dia mengerdip-ngerdipkan kedua matanya untuk menyadarkan dirinya dari apa yang telah dilihatnya satu jam belakangan. Tapi, setiap dia membuka matanya, yang dilihatnya adalah sesuatu yang berbeda. Semua suasana berubah menjadi seperti suasana kamarnya, suasana sekolahnya, bahkan sampai suasana kebun binatang yang selalu dibayangkannya.
Zora menampar dirinya sendiri, dan semuanya berakhir. Akar yang ada di hadapannya saat itu sudah tidak ada, dan suasana yang berubah-ubah itu telah berhenti dan menjadi suasana yang sebenarnya. Dia merasa lega karena dia sudah sadar dari mimpinya. Namun, laki-laki berkumis yang masih terbaring tidak sadarkan diri di hadapannya tidak terdapat luka ataupun darah yang mengalir keluar dari kepalanya. Saat itu, Zora membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu bergerak untuk segera berdiri dan berlari menghampiri Anak Angin yang terlihat mulai membaik, meski wajahnya masih pucat.
Zora duduk di hadapan Anak Angin itu dengan napas tersengal-sengal, lalu berkata dengan terbata-bata, “To, tolong. Tolong jelaskan. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ba, banyak hal aneh yang kulihat. Tolong.” Zora menggenggam kedua kaki Anak Angin yang sengaja diluruskannya dalam keadaan terbuka, dan dia duduk di antara kedua telapak kaki Anak Angin itu.
Anak Angin itu terbelalak tiba-tiba, membuat Zora semakin takut pada dirinya sendiri dan laki-laki seumurannya yang duduk di hadapannya. Tangan kanan Anak Angin yang sudah tidak terdapat bola transparan itu terangkat dan menunjuk ke arah kedua mataku. Dia berkedip-kedip, lalu mulai membuka mulut, “Ma, matamu berubah-ubah warna, dan ada asap berwarna pelangi yang keluar dari sekujur tubuhmu. Si, siapa kamu sebenarnya?”
“Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Aku mohon, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku benar-benar takut,” kata Zora dengan tubuh gemataran dan mulai meneteskan air mata yang mengalir semakin deras menuruni pipinya.
Anak Angin itu merogoh saku bagian dalam jaket cokelat yang dikenakannya. Dia mengeluarkan secarik kertas, lalu membuka kertas putih yang terlipat-lipat itu. Dia membaca tulisan di atas kertas itu, lalu menurunkan kertas itu dan menatap Zora dengan wajah yang terlihat terkejut bercampur heran.
“Cepat katakan. Kau memubuatku semakin takut,” kata Zora sambil menutup kedua matanya dengan kedua tangannya dan menangis terisak-isak.
“Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu langsung dengan anda, Salvator Omnium Salvatores,” kata Anak Angin itu sambil membungkukkan badan dalam keadaan duduk dan kaki terbuka yang diluruskan. Dia kembali menegakkan badan, lalu kedua tangannya bergerak menghampiri pundak Zora. Dia menyentuhnya dan membuat Zora memperlihatkan wajahnya yang mulai terlihat sembab. “Kamu adalah Generasi ke-13 SOS atau Salvator Omnium Salvatores. Kamu pasti tahu arti dari kata-kataku barusan, bukan?” tanya Anak Angin itu sambil tersenyum senang di hadapan Zora yang masih terisak-isak kecil.
Tiba-tiba saja Zora berkedip dan isakannya berhenti. Dia berhenti bernapas, dan wajahnya benar-benar terlihat sangat terkejut. “A, aku mengerti. Penyelamat Dari Semua Penyelamat. Tapi, aku tidak mengerti kenapa kamu memanggilku begitu. Namaku Zora, bukan Salvator Omnium Salvatores,” kata Zora dengan sidikit terdengar terbata-bata, karena dia merasa ada sesuatu yang menarik di dalam tubuhnya. Di samping itu, dia juga merasa takut akan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya.
“Kekuatanmu baru saja terbangun setelah tertidur 15 tahun. Sekarang, kamu adalah seorang Biokinesis atau Pengendali Makhluk Hidup. Seperti namanya, kamu bisa mengendalikan semua hal dari dalam tubuh dirimu sendiri, orang lain, maupun makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Kekuatanmu adalah kekuatan terbesar di dunia ini. Seluruh penjuru negeri, terutama kelompok-kelompok Salvatorem atau Juru Selamat sedang mencari penerus Biokinesis untuk dijadikan ketua bagi kelompok-kelompok mereka. Tapi, Indonesia-lah yang memilikinya, maka kamu adalah pemimpin kami, Salvatorem Indonesia. Tapi, kamu berhak memilih untuk menjadi pemimpin dari negara mana,” kata Anak Angin itu menjelaskan apa yang baru saja terjadi pada Zora, dan sepertinya Zora terlihat sangat menerimanya. “Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Dimas Bayu, tapi kamu cukup panggil aku dengan nama Bayu. Seperti nama panggilanku, aku adalah Pengendali Angin, salah satu dari Quatuor Elementa Salvator. Salam kenal. Senang bisa bertemu dan berkenalan langsung denganmu, Salvator Omnium Salvatores,” tambah Anak Angin yang mengaku dirinya bernama Dimas Bayu itu.
Zora mengangkat kepalanya, menatap Bayu sambil perlahan-lahan menarik kedua sisi bibirnya dan membentuk sebuah senyuman. Zora mengulurkan tangan kanannya dan meminta jabat tangan dari Bayu. Ketik Bayu menerima jabatan tangannya, Zora berkata, “Aku Aisyah Zora, tapi panggil aku dengan nama Zora. Senang berkenalan denganmu, Aerokinesis, atau nama kerennya Aer Elementa. Tidak aku sangka, hidupku berubah 180 derajat,” kata Zora memperkenalkan diri.
Dia teringat tiba-tiba. Dia belum menyentuh sedikitpun makanan sejak dia tidur tadi malam puukul 11. Perutnya mulai berbunyi kelaparan. Begitupun dengan perut Bayu. Zora dan Bayu saling menyinggung senyum lalu mereka bergegas untuk pergi dari tempat itu menuju Wisata Kuliner di TMII. Zora menjanjikan akan membayarkan makanan yang dipesan oleh Bayu sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongnya dan menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya saat itu.
Meski harus berjalan jauh untuk bisa sampai di Wisata Kuliner yang terdiri dari penjual-penjual kaki lima yang hanya ditemukan pada hari Minggu pagi yang berjajar membuka jualan mereka mengelilingi Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau PPIPTEK. Ketika mereka sudah sampai di kawasan Wisata Kuliner, mereka segera duduk di bawah tenda. Pelayan sekaligus pemilik kaki lima Bubur Ayam Bandung itu segera membuatkan bubur ayam khas Bandung buatannya untuk mereka.
Bubur ayam khas Bandung dengan tambahan potongan cakwe itu terlihat sangat lezat bagi perut lapar Zora dan Bayu. Tanpa segan-segan, mereka segera menyantap pesanan mereka dengan lahap. Bahkan, mereka meminta pada pemilik kaki lima itu untuk membuatkan bubur ayam lagi untuk mereka masing-masing satu mangkuk. Dan setelah selesai menyantap habis bubur ayam mereka, mereka segera pergi dari kawasan Wisata Kuliner untuk beristirahat di Danau Nusantara, danau buatan yang terdapat pulau-pulau Indonesia buatan.
Mereka duduk di tepi danau dengan menyelupkan kedua kaki mereka ke dalam air yang berwarna cokelat dan kotor. Tapi karena Zora tidak ingin melepaskan sepatunya dan kaos kakinya hanya untuk merendam kaki di dalam air kotor, akhirnya hanya Bayu yang merendam kakinya.
Saat itu, jam menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Zora sudah merasa lelah tidak seperti biasanya. Biasanya, dia baru akan merasa lelah setelah terus berjalan mengelilingi TMII selama 3 jam atau 4 jam. Tapi, mungkin itu semua karena kekuatannya yang tersembunyi di dalam tubuhnya baru saja terbangun ketika melihat dua jenis kekuatan yang berbeda dan merangsang kekuatannya untuk bangun.
“Zora,” kata Bayu sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya secara bergantian hingga menghasilkan gelombang-gelombang kecil di dalam air, “Apa kamu akan menjadi pemimpin di Indonesia?” tanyanya sambil menatap air keruh yang sedang dimainkannya.
Zora sudah mengerti semua yang terjadi pada dirinya mulai saat itu, dan dia sudah bisa menerima kenyataan dengan cepat. Zora hanya menggeleng sambil tersenyum dan ikut menatap air keruh yang dimainkan oleh Bayu. “Aku tidak akan menjadi ketua di negara mana pun. Aku akan merahasiakannya dari siapapun. Cukup kamu saja yang tahu mengenai hal ini. Mungkin, beberapa kali aku akan mendapatkan masalah dalam kehilangan kendali. Tapi, apapun yang terjadi aku memutuskan untuk tetap menyembunyikannya. Lagi pula, kalau aku memilih untuk menjadi pemimpin di salah satu negar, pasti negara lain tidak akan mau kalah dan akan menyerang negara yang kupilih untuk menyerahkanku pada negara yang menyerang. Kalau itu terjadi, aku yakin, pasti Perang Dunia III tidak dapat dipungkiri lagi,” jawab Zora dengan tenang.
Bayu berhenti bermain air. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Zora yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat. “Jika itu yang kamu inginkan, aku akan menjaga rahasia ini, termasuk dari Ketua Arfan, Ketua Salvatorem Indonesia. Tapi, sulitnya, dia adalah seorang Pembaca Pikiran. Jadi, kalau suatu saat nanti Ketua membaca pikiranku dan mengetahui mengenai dirimu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyimpannya,” kata Bayu sambil tersenyum, membuat ekspresi Zora berubah.
Zora tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Lalu, dia terdiam untuk sesaat. Tapi, dia kembali teringat ada satu pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Bayu. “Bayu, kalau boleh tahu, di mana sekolahmu, kelas berapa, alamat rumahmu, serta nomor teleponmu. Mungkin suatu hari nanti aku akan memintamu untuk membantu masalahku,” kata Zora sambil menatapnya dengan tenang, seakan-akan pertanyaan yang diajukannya adalah pertanyaan normal untuk seorang teman baru. Namun, tidak bagi Bayu.
Wajah Bayu terlihat sedikit memerah tersipu. Tapi, dia berusaha menyembunyikannya. Dia mengeluarkan telepon genggamnya dan menyuruh Zora mengetikkan nomornya di telepon genggamnya, karena dia akan menelepon Zora. Setelah Zora mengetikannya dan sudah menerima panggilan dari telepon genggam Bayu, mereka saling menyimpan nomor telepon mereka di telepon genggam mereka.
“Sebenarnya, kamu tidak perlu bertanya alamatku dan asal sekolahku. Memangnya kamu tidak pernah melihatku? Aku Dimas Bayu, siswa kelas sebelas jurusan IPS di sekolah yang sama denganmu. Yah, tapi wajar saja kalau kamu tidak mengenalku, karena kita tidak pernah duduk dalam satu kelas. Bertemu pun hanya dua kali dalam seminggu. Jadi, wajar saja kalau kamu tidak mengenalku,” kata Bayu sambil tertawa nakal, membuat Zora sedikit terkejut dan ikut tertawa karena ketidaktahuannya. “Tapi, kalau kamu ingin bertemu denganku di sekolah, temui aku sepulang sekolah di lapangan basket, karena setiap pulang sekolah aku selalu bermain di sana bersama seorang Pengendali Air sekaligus sahabatmu, Novia Salsabila,” katanya sambil bergerak untuk berdiri.
Zora terlihat sangat terkejut. Dia tidak menyangka, sahabatnya yang tomboy itu seorang Pengendali Air, salah satu dari Quatuor Elementa Salvator. Bayu pergi pun Zora tidak menyadarinya, karena dia masih dalam keadaan terkejut. Dia masih merasa terkejut dengan apa yang telah Bayu katakan padanya, dan itu hampir membuatnya berteriak karena terkejut dengan informasi baru yang tidak pernah disangkanya seumur hidupnya selama ini.
Zora masih duduk terdiam untuk beberapa saat, berusaha untuk menerima semua hal yang terjadi begitu cepat hanya dalam waktu kuarng dari 2 jam. Dia mulai menyadari Bayu pergi seiring berjalannya waktu. Dia merasa sedikit kesal karena Bayu meninggalkannya di tengah-tengah pembicaraan. Tapi, di saat yang bersamaan Zora juga merasakan kegembiraan, kesenangan, dan kelegaan setelah apa yang dia ketahui hampir seluruhnya. Saat itu, jantungnya berdebar-debar karena senang, dan dia lupa bahwa jantungnya masih harus beristirahat setelah mendapatkan serangan dari seorang Necrokinesis atau Pembunuh Organisme yang menyerang dirinya dan Bayu beberapa saat yang lalu.

Chapter One

Aisyah Zora, itulah nama panjang dari perempuan berkerudung yang memiliki ukuran tubuh yang besar, pundak yang lebar dan lapang, serta wajah penuh bekas jerawat. Perempuan kelahiran 13 September 1994 ini baru saja pergi lari pagi di Taman Mini Indonesia Indah di hari pertama libur semester satu. Sebelum berangkat, Zora meninggalkan rumahnya yang besar dalam keadaan kosong dan terkunci. Ibunya sedang menemani adiknya yang dirawat di rumah sakit akibat terserang Demam Berdarah. Kakaknya tinggal di kontrakannya yang terletak cukup dekat dengan kampusnya. Sedangkan ayahnya sedang pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Memang ada pengurus rumah, tapi di hari Minggu orang itu tidak masuk bekerja karena harus bekerja di tempat lain.
Setibanya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan mengendarai angkutan umum dari rumahnya selama sekitar setengah jam, Zora segera masuk tanpa harus membayar karena pejalan kaki akan mendapatkan hari gratis masuk pada hari Minggu.  Zora mulai berjalan-jalan sendirian di jalan yang tidak begitu ramai di antara Terminal A Skylift dan Keong Emas. Meski sendirian, Zora selalu merasa ada yang menemaninya dan tidak pernah merasa takut akan hal-hal yang mungkin terjadi jika dia sendirian, entah ada orang yang mengganggunya ataupun ada yang menculiknya.
Zora mulai berjalan cepat dan berakhir dengan berlari-lari pelan sepanjang jalan. Dia terus berlari pelan menyusuri jalan, melewati Masjid Pangeran Diponegoro, Gereja Katholik Santa Catharina, Gereja Kristen Haleluya, Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabumi, dan terus berlari pelan sampai akhirnya dia berhenti di depan gerbang masuk Museum Keprajuritan dengan napas sedikit tersengal-sengal. Dia kembali melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki sambil mengatur kembali napasnya.
Namun, belum jauh dia pergi dari jalan di depan Museum Keprajuritan, dia berhenti tiba-tiba. Dia menoleh ke dalam kawasan museum, menatap pintu kayu setinggi tiga atau empat meter yang memiliki dua daun pintu yang salah satunya terbuka ke arah dalam gedung museum. Zora diam dan terus berpikir dalam hati mengenai keanehan pada museum yang terkenal selalu sepi pengunjung dan sedikit menyeramkan itu.
Zora memutuskan untuk melihat lebih dekat. Dia berjalan menyeberang jalan selebar dua meter, lalu berjalan menuju bangunan seluas satu setengah kali satu setengah meter, tempat penjualan tiket masuk Museum Keprajuritan. Zora berdiri di depan kaca bangunan itu dan mengintip ke dalam bangunan, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan tidak ada barang satu pun di dalam ruangan itu dan pintunya juga masih terkunci ketika Zora memeriksanya dari bagian sisi kanan bangunan itu.
Zora bergerak untuk menghampiri gerbang besi yang sudah karatan. Dia meraba-raba untuk memeriksa kondisi kunci selot gerbang itu, dan masih dalam keadaan digembok. Zora berpikir sekali lagi untuk tetap diam di tempat itu dan tidak melakukan apa-apa, atau melanjutkan lari paginya yang sedikit terhambat.
Untuk beberapa menit, Zora masih diam di dekat gerabang besi itu dan tidak melakukan apa-apa. Hingga dia melihat seorang laki-laki seumurannya keluar dari dalam museum sambil menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tertutup rambut hitam yang berantakan. Laki-laki itu berhenti di depan pintu yang bergerak tertutup perlahan-lahan dengan sendirinya. Laki-laki itu melihat Zora yang sedang melihatnya, maka laki-laki itu berjalan dengan lemas dan tidak bersemangat melewati jalan yang sedikit menurun, melewati jembatan kayu di samping dua kapal yang menjadi salah satu bagian dari benda-benda yang ditunjukkan di museum itu, dan berjalan menuju gerbang.
Zora sedikit terkejut ketika merlihat laki-laki berpakaian kaos merah berkerah dan celana jins yang cukup besar itu berjalan semakin dekat menghampirinya. Zora bergerak untuk menjauh dari gerbang perlahan-lahan dengan melangkah mundur. Zora terjatuh ke belakang ke atas tanah berdebu parkiran museum ketika ujung belakang sepatunya mengantuk batu bata. Zora semakin terkejut dan bergerak mundur dengan cepat berusaha menjauhi laki-laki seumurannya yang terlihat melompat tinggi melewati gerbang besi berkarat setinggi satu meter dan bergerak terus menghampirinya.
“Jangan mendekat,” kata Zora dengan terbata-bata dan sedikit merasa takut, tapi laki-laki itu terus berjalan ke arahnya. Ketika Zora sudah merasa benar-benar lemas dan tidak dapat bergerak lagi, laki-laki itu berhenti satu meter di depannya, mengulurkan tangan kanannya pada Zora, dan membuatnya bingung. “Kenapa?” kata Zora, bertanya pada laki-laki itu, kenapa laki-laki itu berhenti mendekatinya.
Keempat jemari panjang laki-laki itu bergerak-gerak ke arah telapak tangan, menunjukkan bahwa dia menawarkan tangannya untuk membantu Zora berdiri. “Kamu aneh. Kenapa kamu bertanya ‘kenapa’ padaku? Aku ingin membantumu berdiri. Tidak butuh bantuan?” katanya. Suaranya terdengar begitu gagah namun terasa seperti mendengarkan angin sepoi-sepoi, pelan tapi tetap terdengar.
Zora menerima bantuan laki-laki yang awalnya ditakutinya. Laki-laki itu menarik tubuh Zora dengan ringan, tapi Zora merasa seperti ada yang membantunya mendorong dari belakang untuk bisa berdiri. Zora mengkibas-kibaskan bagian belakang celana olah raganya agar bersih dari debu merah. “Terima kasih, sudah membantu,” kata Zora sambil mengangkat kepalannya untuk melihat laki-laki aneh yang keluar dari dalam museum dengan rambut acak-acakkan di dekatnya itu.
Hembusan angin yang cukup kencang menerpa wajahnya, tepat ketika laki-laki yang membantunya berdiri itu menjatuhkan tubuhnya ke arahnya dengan perlahan-lahan seperti akan terjatuh cepat, tapi anehnya terasa seperti ada yang berusaha menahan tubuhnya dari bawah agar tidak terjatuh dan membentur tanah dengan keras. Dengan cepat, tangan Zora bergerak menahan tubuh laki-laki itu. Zora mengira bahwa dia akan terjatuh juga karena menahan tubuh laki-laki di hadapannya yang kini dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi diluar perkiraannya dia mampu menahan tubuh laki-laki itu tanpa merasakan berat sedikitpun.
Zora bergegas mengalungkan lengan kiri laki-laki itu di lehernya, lalu membuat tubuhnya yang tidak berdaya terseret-seret ketika dia hendak membawanya ke bangunan kecil tempat pembelian tiket masuk museum. Zora menyandarkan punggung laki-laki itu pada dinding bangunan, lalu berjongkok dengan kedua kakinya di hadapan laki-laki berwajah pucat itu. “Bertahanlah, aku akan mencari bantuan,” kata Zora sambil bergerak untuk berdiri dan hendak membalikkan badan, namun tiba-tiba saja tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dia merasa kepalanya begitu sakit dan berdenyut-denyut keras. Dia bersimpuh membelakangi laki-laki yang telah menolongnya, lalu membungkuk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan mengerang-erang kesakitan. Namun, tidak ada seorang pun yang lewat di jalan itu, semua sedang bersenam bersama di halaman Tugu Api Pancasila.
Di tengah-tengah penderitaannya, dia mendengar sebuah langkah kaki dari depannya. Dia berusaha mengangkat kepalanya dan membuka matanya untuk melihat siapa yang datang. Tapi, dia tidak kuat menahan rasa sakit pada kepalanya. Rasanya, seperti otak yang terjepit di antara dua dinding beton yang sangat tebal. Sampai Zora merasa mual dan memuntahkan isi asam lambung dan air berwarna kekuningan dari perutnya yang belum tersentuh makanan.
“Di jalan ini tidak ada siapa-siapa, jadi kamu tidak bisa mencari bantuan,” kata seorang laki-laki yang baru saja datang dan berdiri di depan kepala Zora yang masih membungkuk sambil mengerang-erang kesakitan. “Kamu tidak akan bisa pergi dari tempat ini untuk mencari bantuan, karena kamu dan Anak Angin itu akan segera mati di tanganku,” kata laki-laki itu, disusul gelak tawa yang menggelegar, membuat kepala Zora terasa semakin sakit.
“Siapa kamu? Siapa Anak Angin? Aku tidak mengerti,” kata Zora dengan terbata-bata sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang mulai bisa diterimanya. Zora mengangkat kepalanya perlahan-lahan, dan menatap laki-laki berkumis lebat yang mengenakan topi dan jaket kulit berwarna hitam. Tangan laki-laki itu terlihat menggenggam, seperti sedang meremas sesuatu.
Laki-laki berperawakan 35 tahun itu tertawa keras, membuat kepala Zora terasa kembali sakit, bahkan lebih sakit dari sebelumnya. “Jangan berpura-pura tidak tahu, Bocah. Anak laki-laki yang kamu tolong itulah Si Anak Angin. Jangan harap kamu bisa menolongnya dariku,” kata laki-laki bersuara keras dan terdengan berlogat daerah Sumatera Barat itu.
Zora terbatuk-batuk, lalu memuntahkan kembali isi perutnya yang hanya berbentuk air berwarna kuning. Zora mengatur napasnya, mengangkat kepalanya kembali, lalu menatap sebelah mata pada laki-laki di depannya. Zora tersenyum dan berkata, “Jangan libatkan aku dalam urusan kalian. Aku tidak kenal laki-laki itu. Biarkan aku bebas.” Zora kembali terbatuk dan memuntahkan air dari dalam perutnya.
“Jangan harap kamu bisa bebas setelah mengetahui apa yang terjadi. Kamu akan aku bebaskan, tapi ke Neraka,” kata laki-laki itu.
Tiba-tiba, jantung Zora terasa seperti diremas. Zora kembali mengerang keras. Tidak hanya kepalanya yang sakit, tapi kini dada kirinya juga sakit. Di tengah-tengah penderitaannya, laki-laki itu tertawa dengan puas. Namun, tawa itu segera hilang ketika laki-laki itu bergerak melayang ke belakang dan jatuh ke atas tanah dengan debuman keras. Saat itu, rasa sakit pada kepala dan jantung Zora perlahan-lahan menghilang dan kembali mereda, meski masih terasa sedikit sakit.
“Dia tidak ada urusannya dengan masalah kita, Pak Pembunuh,” kata laki-laki yang dipanggil dengan nama Anak Angin. Laki-laki itu berdiri di belakang Zora, lalu dia berjalan ke depan Zora. Punggungnya terlihat begitu kuat dan tegar, meski Zora tahu keadaan anak itu tidaklah baik. “Kamu, maafkan aku sudah melibatkanmu. Apa kamu baik-baik saja? Bisa kamu pergi menjauh dari tempat ini?” kata anak itu kembali sambil memutar kepalanya ke belakang, menatap Zora, dan menebarkan senyum lebar dengan bibirnya yang pucat.
“Aku sudah tidak apa-apa. Tapi, kamu sedang sakit. Sebaiknya, kita pergi dari tempat ini bersama-sama. Kamu tidak mungkin bisa mengalahkan orang itu dalam kondisi tubuhmu yang tidak baik itu,” kata Zora setelah menjawab pertanyaan dari anak laki-laki terbaik dan tergagah yang baru pertama kali dilihatnya seumur hidupnya setelah ayahnya.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak akan apa-apa. Lagi pula, aku melakukan ini sebagai ucapan maafku karena telah melibatkanmu dalam urusan berbahaya seperti saat ini,” katanya kembali sambil memasang kuda-kuda pada kedua kakinya, lalu kedua tangannya bersiap-siap melakukan sesuatu di kedua sisi tubuhnya.
Terasa hembusan angin yang kuat dan terasa begitu menegangkan menerpa tubuh Zora dari depan, seakan-akan anak laki-laki itu yang menghembuskan angin itu. Zora bergerak untuk mundur meski harus menyeret tubuhnya, lalu duduk mengatur napasnya dan rasa takutnya akan rasa sakit yang tadi dirasakannya. Kini, Zora berada dua meter di belakang anak laki-laki yang berdiri penuh dengan ketegaran dan kegagahan yang terpancar dari punggung dan pundaknya.
Orang berkumis lebat itu bergerak untuk bangkit perlahan-lahan. Dari celah antara kedua kaki Anak Angin itu, Zora melihat bahwa laki-laki berkumis lebat itu tersenyum, seakna-akan dia menikmati apa yang telah terjadi padanya. “Ternyata kamu cepat siuman juga, Anak Angin. Aku kira, dampak kekuatanmu yang keluar banyak kemarin membuatmu koma, atau bahkan kematian,” kata laki-laki berkumis itu.
“Tentu saja, karena aku akan segera melakukan sesuatu padamu. Akan aku balas perbuatanmu pada orang awam. Aku tidak bisa membiarkanmu mencampuri orang lain dalam urusan kita,” kata Anak Angin itu setelah menghela napas berat, seperti mengeluarkan semua rasa lelah di tubuhnya. Angin yang terhembus dari mulutnya ketika menghela napas terlihat sedikit asap putih, dan hembusan napas itu membuat debu di bawah kakinya bergulung-gulung seperti tersapu angin.
Laki-laki berkumis itu tersenyum dengan penuh kelicikan. “Awalnya aku tidak ingin mencampuri anak itu dengan urusan kita. Tapi, sepertinya anak itu memiliki sesuatu yang lebih menakjubkan dari dirimu. Tidak aku sangka, anak itu masih bisa bertahan setelah mendapatkan siksaan, tidak seperti dirimu.” Laki-laki itu kembali tertawa, dan tawanya itu membuat Anak Angin itu merasakan sedikit pusing, dan wajahnya, bahkan sampai kakinya, terlihat pucat.
Anak Angin? Kekuatan? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Kata Zora dalam hati. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya. Dia juga tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia juga tidak mengerti siapa kedua laki-laki yang berdiri saling berhadapan di depannya. Aura yang terpancar dari kedua laki-laki itu terasa menegangkan dan menakutkan, bahkan sampai membuat bulu kuduk Zora berdiri untuk hampir 15 detik.
Ketegangan di sekitar Zora membuat Zora merasa merasa bahwa dirinya akan mendapatkan sebuah cerita yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Zora juga merasa, bahwa saat itu adalah saat paling menegangkan yang pernah dia rasakan. Sampai Zora merasa bahwa saat itu adalah saat-saat terakhirnya untuk bisa melihat anak laki-laki tergagah dalam hidupnya selama 16 tahun.
Dia sadar bahwa Anak Angin itu berada dalam kondisi tidak baik, bahkan dia tahu kakinya dan tangannya pucat. Tapi, Zora tidak tahu harus berkata apa untuk memperingatkan Anak Angin itu agar tidak melawan laki-laki berkumis yang terlihat menyeramkan di matanya. Dia ingin menarik Anak Angin itu untuk pergi dari tempat itu, tapi keadaannya setelah kepalanya dan dada kirinya sakit, membuatnya tidak dapat lari dari tempat itu, bahkan untuk berdiri pun sulit sekali dia lakukan.
Pembicaraan dua laki-laki di depan Zora itu terhenti. Sebuah asap putih yang hampir tidak terlihat di hari yang cerah itu keluar dari tubuh Anak Angin, membuat Zora ternganga dan terkagum-kagum melihatnya. Tapi, tidak untuk laki-laki berkumis di hadapan Anak Angin itu. Laki-laki berkumis itu mengeluarkan asap hitam yang terlihat sangat jelas, seperti asap bakar sampah. Zora malah merasa jijik melihat asap hitam keluar dari tubuh laki-laki berkumis itu. Bahkan, hampir membuatnya kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa air.
Seiring dengan keluarnya asap putih dari tubuh Anak Angin itu, permukaan kulit Anak Angin itu terlihat sangat pucat, bahkan lebih pucat dari telapak tangan seseorang yang kedinginan di Kutub Utara. Zora membuka mulutnya untuk memperingatkan Anak Angin itu, tapi hembusan angin yang keluar di sekitar Anak Angin itu membuat Zora terkagum-kagum dan hampir berhenti untuk memperingatkan Anak Angin itu mengenai kondisi tubuhnya.
“Hei, sudahlah,” kata Zora sambil bergerak untuk berdiri, tapi kembali terjatuh karena kedua kakinya tidak kuat menahan tubuhnya yang berat untuk berdiri. “Hei, Anak-Yang-Dipanggil-Anak-Angin, bukankah kamu sadar bahwa keadaanmu tidak baik saat ini? Bukankah lebih baik jika kamu tidak mengeluarkan asap putih yang seperti cakra dalam kartun itu lebih lama? Semakin lama kamu mengeluarkan asap putih itu, kamu terlihat semakin pucat,” kata Zora dengan napas yang sedikit tersengal-sengal karena syok akan dirinya yang tidak dapat berdiri.
Zora melihat tubuh Anak Angin itu seperti terhuyung-huyung, tapi tidak lama keadaan itu berlangsung. Asap putih dan hembusan angin yang keluar dari tubuh Anak Angin itu seakan-akan membuat tubuhnya kembali berdiri tegap dan penuh kegagahan. “Omonganmu terdengan lucu. Tapi, tidak aku sangka kamu cepat tanggap mengenai hal-hal kecil,” kata Anak Angin itu dengan suara yang terdengar sepoi-sepoi. “Kamu tenang saja. Selama pucatnya kulitku tidak seputih asap yang keluar dari tubuhku ini, aku masih akan tetap berusaha melindungimu. Lagi pula, kalau kita lari sekarang, Laki-laki Pembunuh di depanku pasti akan terus berusaha menghentikan kita untuk tidak pergi darinya. Nah, diamlah di tempatmu, dan jangan terkejut melihat apa yang terjadi setelah ini,” kata Anak Angin itu menambahkan, membuat perasaan Zora seperti menyukai laki-laki itu, tapi Zora berusaha membuangnya karena hal itu tidak penting di saat seperti itu.
Zora duduk lemas di belakang tubuh Anak Angin yang berasap putih itu. Zora juga melihat asap hitam yang keluar dari tubuh laki-laki berkumis dengan jaket kulit hitamnya yang membuat asap itu terlihat hampir sama pekatnya dengan hitamnya jaket kulit itu. Zora merasa dirinya lebih takut dari apapun, bahkan dia hampir lupa pada Tuhannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang seharusnya lebih dia takuti dari apapun. Zora berdoa dalam hati untuk Anak Angin itu, agar Allah S.W.T. memberinya kekuatan dan ketabahan. Dia juga berdoa untuk dirinya, agar dirinya masih dapat terjaga sampai kejadian yang mungkin akan membuatnya terkejut ketika melihatnya, seperti yang dikatakan Anak Angin itu, berakhir.

Prologue

Greeting warmly from me...
I'm very happy for your presence in this blog.
I give my artificial story.
I hope you enjoy my story and give me comments on every story.
Hopefully entertained.
Thank you very much.

Zora Zuyyin ^_^